Oh merananya Indonesiaku

Indonesian

Baru lepas beberapa hari yang lalu kami sekeluarga tiba kembali di Singapore setelah "liburan” selama hampir 2 minggu di Indonesia. Perjalanan yang cukup berkesan bukan hanya untuk anak-anak, karena mereka bisa mengenal para pendahulunya; tetapi juga merupakan kado untuk orang tua kami yang tidak sanggup untuk menempuh perjalanan jauh untuk menengok anak cucunya. Diluar hiruk-pikuk keberhasilan Indonesia yang kadang kami dengar / baca melalui media, perjalanan liburan itu juga memberi kesan bahwa gap ketertinggalan Indonesia semakin besar.

Disambut dengan kemacetan

Kami berangkat dengan menumpang pesawat langsung dari Singapore menuju Surabaya. Dari Surabaya kami dijemput untuk diantarkan ke Lumajang. Disinilah kemacetan pertama mulai menyambut. Sepanjang jalan dari Surabaya sampai melewati Porong macet. Kemacetan ini terutama disebabkan oleh bencana lumpur Lapindo yang pada saat itu sudah genap 5 tahun. Beberapa saat lepas dari kemacetan karena lumpur Lapindo, kami disambut oleh kemacetan berikutnya akibat kerusakan jalan. Kerusakan jalan yang cukup parah kami temui antara Pasuruan sampai dengan Probolinggo. Akhirnya perjalanan Surabaya – Lumajang ditempuh dalam waktu 4.5 jam.

Kami menghabiskan waktu beberapa hari di Lumajang, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Di Jakarta, kami menemukan kemacetan dalam skala yang lebih besar. Bahkan di jalan tol lingkar luar pun terjadi kemacetan yang cukup parah. Jarak 50 km, antara Jakarta Timur – Serpong ditempuh dalam waktu 2 jam melalui tol lingkar luar.

Kemacetan di dunia maya

Selama di Indonesia, kami menggunakan nomor pra-bayar. Kami juga mengaktifkan fasilitas mobile broadband pra-bayar dengan harapan dapat selalu terhubung di dunia maya. Maklumlah tanpa facebook atau gmail, kami seolah-olah berada di hutan belantara. Dapat dikatakan bahwa mobile broadband yang ada pada saat ini telah jauh berkembang ketimbang beberapa tahun yang lalu, akan tetapi jika dibandingkan dengan Singapore kecepatan yang kami peroleh sangatlah kecil. Sangat kecil sehingga jalur ke dunia maya pun mengalami kemacetan.

Acara infotaiment yang tidak bermutu

Sejak hari pertama mendarat di Jakarta, hari-hari kami disambut dengan acara infotaiment yang tidak bermutu. Mulai dari subuh hingga hampir tengah malam, semua acara infotaiment menyajikan berita yang serupa. Semuanya beramai-ramai menceritakan tentang radang payudara Melinda,  perawatan tubuh, operasi plastik, liburan Yuni Shara dan hal-hal yang serupa dengan itu. Terus terang kami sampai jijik mendengar berita-berita seperti itu. Tidak adakah muatan yang lebih bermutu?

Mungkin sebaiknya para orang-tua di Indonesia segera beralih ke TV kabel dan memblokir siaran TV-TV swasta dari pesawat TV mereka.

Film-film yang tidak rasional

Yang tak kalah seru adalah judul film-film yang beredar di bioskop. Terus terang kami geli dan sekaligus prihatin dengan judul film “Kuntilanak Kesurupan”, “Hantu Joged Goyang Pinggul” dan lain sebagainya. Serasa kami kembali ke masa lalu pada saat film-film tidak rasional semacam itu sedang booming.

Apakah penulis cerita atau sutradara sudah kehabisan akal untuk membuat cerita? Bukankah mereka bisa “mencontek” dari film-film Hollywood – dengan penyesuaian budaya dan kebiasaan di Indonesia. Nah yang contek-mencontek ini mungkin juga ada “Serdadu Kumbang”. Meskipun belum pernah melihat/membaca resensinya, saya rasa film ini menyadur ide dari “Laskar Pelangi”.

Sinetron TV ala film India

Salah satu ciri khas film-film India pada tahun 1980-an adalah suara musik yang mengayun tinggi/rendah, mata melotot, zoom-in kamera ke satu atau dua objek. Ciri-ciri khas ini rupanya diadopsi oleh sinetron-sinetron TV. Film-film India pada masa kini sudah meninggalkan teknik-teknik kuno diatas, tapi anehnya sinetron TV kita malah tetap menggunakannya. Menurut saya, teknik ilustrasi musik film-film Rano Karno, Dedy Mizwar pada jaman dulu masih jauh lebih baik ketimbang film India di era 80-an.

Semua kesan diatas tentu bisa muncul karena kami pulang ke Indonesia sebagai wisatawan. Kita semua mestinya segera menyadari bahwa masyarakat kita sedang dibuai. Dibuai dalam ketidak-rasionalan.

14 comments to Oh merananya Indonesiaku

  • guest

    Hi Riwut,

    Apakah Anda mau tinggal di Indonesia jika Anda mendapatkan salary seperti yang anda dapat sekarang di singapura?
    Bisa tolong berikan alasannya.
    Apakah dunia kerja IT di Singapura lebih baik dibandingkan dengan dunia IT di Indonesia?
    Jika anda mengatakan lebih baik di singapura, bisa tolong berikan plus point nya.

    Many Thanks
    Regards,
    quest

    • cakriwut

      Salam,

      Dari biaya hidup, tinggal di Indonesia (lebih spesifik Jakarta, Surabaya atau Batam) tidak lebih murah jika dibandingkan dengan Singapore. Tentu saja dengan catatan bahwa kualitas yang dibandingkan itu harus sama. Diluar itu, ada satu hal yang mungkin masih lebih murah di Indonesia yaitu tempat tinggal.

      Dari sisi kesempatan, tinggal di Indonesia memberikan peluang go-international yang relatif lebih kecil. Hal ini bisa dimengerti karena dari sisi kebijakan, pemerintah Singapore menempatkan negaranya sebagai hub untuk berbagai macam hal Financial Hub, Trading Hub dsb.

      Dari sisi kekuatan mata uang dan credit rating. Singapore memiliki credit rating AAA, dan mata uang yang cukup kuat. Dampaknya cukup signifikan, misalnya membeli iPhone ibarat sama dengan uang jajan seminggu, dsb. Atau dampak yang lain lagi, mungkin prosentase sisa (saving) per bulan sama atau lebih kecil – namun jika dirupiahkan hasilnya masih jauh lebih besar ketimbang gaji rata-rata di Indonesia.

      Jadi dengan gaji yang sama, saya mungkin belum memilih untuk kembali ke Indonesia. Ada banyak kesempatan besar yang bisa kita dapatkan dengan berkelana di negeri orang ; sementara ada banyak hal di negeri sendiri yang jauh dari jangkauan kita untuk dapat mengubahnya. Saya tidak menafikkan ada banyak rekan-rekan yang memiliki idealisme untuk membangun negeri sendiri; tetapi tanpa adanya kesadaran sosial dan pengaturan yang jelas, idealisme itu menurut saya akan terbawa mati.

      Dunia IT di Singapore tidak lebih baik jika dibandingkan dengan dunia IT di Indonesia. Tetapi pada tingkat yang sama, pekerja di Singapore memiliki tingkat daya beli yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pekerja di Indonesia.

      Semoga bisa menjawab pertanyaan yang diajukan.

      Salam,

      Riwut.

  • guest

    Hi Riwut,

    Terima kasih banyak atas penjelasannya.
    Boleh berikan contoh kesempatan besar yang anda maksud.
    Mungkin untuk lebih spesifik mengenai gaji, saya coba berikan contoh nominalnya.
    Jika di Indonesia Anda mendapatkan SGD3100(punya rumah sendiri) dibandingkan di singapura anda mendapatkan SGD 3500(belum dipotong biaya tempat tinggal, makan, dll).
    Apakah Anda masih memilih Singapura?
    Saya sudah bekerja di Singapura beberapa minggu dan dunia IT-nya sama saja dengan di Indonesia.
    Saya bisa save uang lebih banyak di indo seperti contoh nominal gaji diatas, saya memutuskan untuk balik Indo. Apakah jika Anda di posisi saya, Anda juga memilih balik Indo? Saya merasa bingung dengan pilihan ini.
    Mohon berikan masukan Anda.
    Apa hubungan tingkat daya beli pekerja Singapura dengan ekonomi Singapura
    Di Indonesia peluang bisnis lebih besar dibandingkan di Singapura dan kebanyakan yang ke Singapura hanya menjadi employee saja. Bagaimana menurut Anda?

    Thank you
    Best regards,
    guest

    • cakriwut

      Hello,

      Tentu saja apel harus dibandingkan dengan apel. Gaji 3100 SGD dengan rumah sendiri di Indonesia tentu harus dibandingkan dengan gaji 3100 SGD dengan rumah sendiri di Singapore. Sekali lagi biaya paling besar di Singapore adalah biaya perumahan. Agar lebih imbang, coba pikir lagi dengan gaji 3100 di Indonesia namun dengan tuntutan bertempat tinggal sekitar 30 menit dari tempat kerja, sekolah anak yang setara (misal memilik auditorium tertutup, lapangan olah raga dsb), dekat dengan tempat belanja, makan ,akses ke fasiltas kesehatan yang memadai dsb. Uang 21 juta (3100 SGD) menurut saya masih belum memadai.
      Patut pula diingat bahwa gaji 3500 SGD di Singapore merupakan entry point (gaji fresh graduate dimulai dari SGD 2500 ) – sehingga kesempatan untuk naik masih jauh lebih besar. Gaji 3500 SGD di Indonesia, termasuk kategori wah dan sangat sulit untuk berpindah / mencari tempat pengganti.

      Jika saya ada dalam posisi Anda, maka yang patut saya pertimbangkan adalah potensi dalam 1-3 tahun kedepan. Jika potensinya besar, maka tidak ada salahnya untuk melakukan “investasi”. Di Singapore, kita dapat menemukan ratusan lowongan pekerjaan IT di Strait Times hari Sabtu, dan kita dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Angka SGD 3500 bukanlah angka mati, tetapi itu adalah angka awal; bandingkan dengan di Indonesia – angka SGD 3500 biasanya merupakan angka yang sudah hampir puncak.
      Sekali lagi, saya akan lebih melihat potensi dalam 1-3 tahun kedepan. Dengan strategi yang baik, niscaya Anda bisa mendapatkan lebih dari itu pada tahun ke-3.

      Salam,

      Riwut

  • guest

    Hi Riwut,

    terima kasih banyak atas penjelasannya.
    Sorry saya tidak begitu spesifik dalam pertanyaannya.
    Mungkin Anda berpikir dari sudut orang yang sudah berkeluarga.
    Sebenarnya saya baru memiliki pengalaman 3 tahun di dunia IT umur 25 tahun, masi single dan tinggal bersama keluarga dan mendapatkan gaji sekitar S$3140(jika diconvert dari Indonesia ke Sing dollar)
    Jika Anda melihat melalui posisi saya, apakah Anda masih lebih memilih Singapura dengan gaji SGD 3500 atau Anda bertahan di Indonesia sampai kontrak kerja Anda berakhir, baru memilih ke Singapura?
    Anda memang benar bahwa dalam 1-3 tahun ke depan, gaji saya akan naik, tetapi apakah tidak lebih baik bertahan sebisanya di Indonesia sampai menemukan company di Singapura yang bisa membayar gaji SGD 5000 (setelah dikurangi biaya hidup sekitar 1500, menjadi 3500 yang berarti sama dengan gaji di Indo), setidaknya sudah save uang dalam jumlah banyak per bulannya daripada habis sekitar 6-8 juta per bulan untuk living cost di Singapura.
    Mohon penjelasannya

    Thank you
    Best regards
    guest

    • cakriwut

      Hello,

      Dalam posisi seperti itu, tentu lebih memilih tinggal di Indonesia.

      Salam,

      Riwut

      • guest

        Hi Riwut,

        Terima kasih banyak atas waktu dan penjelasannya.
        Saya sangat terbantu atas masukan Bapak.
        Saya telah menanyakan hal ini ke banyak orang dan kebanyakan orang memilih Indonesia.
        Tapi satu hal yang membuat saya bimbang adalah potensi 1-3 tahun kedepan(seperti yang Anda ceriakan sebelumnya) jika saya tetap bekerja di Singapura, maka MUNGKIN value saya akan naik melebihi value saya di Indonesia.
        Jika saya kembali ke Indonesia, mungkin 1-3 tahun mendatang, jika saya tidak bekerja di company tersebut lagi, dan ketika saya melamar ke Singapura, belum tentu value saya akan tinggi, karena banyak perusahaan menginginkan pengalaman kerja di Singapura yang minimal 1 tahun yang dimana saya tidak memiliki itu.
        Yang jadi kebimbangan adalah uang atau peluang jangka panjang.
        Seperti yang Anda singgung sebelumnya yaitu peluang go-international.
        Mohon masukannya.

        Thank you
        Best regards

        • cakriwut

          Hello,

          Sekali lagi dengan mempertimbangkan kondisi Anda saat ini, misal fresh graduate, tinggal di rumah orang tua, mendapatkan gaji SGD 3100 di Indonesia – dibandingkan dengan SGD 3500 di Singapore; saya sepakat bahwa pindah ke Singapore kurang begitu menarik. Sebagai gambaran kasar, untuk pindah ke Singapore – Anda harus mempertimbangkan kenaikan sebesar 1.5 – 2.5 x gaji di Indonesia dikurs ke SGD. Ini adalah sebagai kompensasi perumahan, migrasi dll.
          Pindah ke Singapore, tetapi bekerja di perusahaan yang kalah bonafide dengan di Indonesia juga tidak terlalu menarik. Jadi sebelum mengambil keputusan, silahkan pertimbangan potensi dan target yang hendak dicapai.

          Salam,

          Riwut

          • guest

            Hi Riwut,

            Terima kasih banyak atas penjelasan bapak.
            Saya sudah mengerti sekarang.
            Semoga sukses ya Pak.

            Thank you
            Best regards,
            Guest

  • yusak

    Hello Pak Riwut,

    Pak, untuk bekerja di Singapore kan perlu ada EP/SP/WP..nah, setelah ada itu, apa ada VISA yg diperlukan lagi?

    Terus juga kalo orang Indonesia yg mau jalan2 ke Singapore…kalo sampai 1 bulan ato bahkan lebih (tidak bekerja, hanya jalan2..let say for visitng family), apa perlu VISA? ada yg bilang kalo masih Asean, ga perlu VISA , bener ya pak?

    Thx..

    Best Regards
    Yusak

    • cakriwut

      Hello,

      Ijin kerja (EP, WP dsb) sebenarnya bagian dari ijin tinggal. Jadi berlaku sebagai ijin tinggal alias sama dengan visa tinggal.
      Untuk sesama negara ASEAN, kita bisa keluar-masuk tanpa harus mengurus visa terlebih dahulu – dan ijin tinggal yang diberikan disebut social visit pass. SVP berlaku selama paling lama 30 hari.
      Seandainya butuh tinggal lebih lama lagi, SVP harus diperpanjang – untuk itu harus ke bagian imigrasi negara yang ditinggali.
      Di Singapore, perpanjangan SVP bisa dilakukan online asal disponsori oleh orang yang menetap di Singapore (PR / SC).

      Salam.

      Riwut

  • nabila

    sy mahasiswa PTN di semarang.sy ingin bisa hidup di singapura setelah lulus S1.sy ingin bekerja (apa saja yg halal) untuk bantu biaya kuliah master degre nantinya.sy bkn mahasiswa yg kaya dan bkn mahasiswa yg super pintar namun sy mau berusaha apapun utk keinginan sy di atas.tolong bantuan nya.terima kasih

  • luisa

    bolehkah saya bertanya lebih nyaman dan aman manakah indonesia dan singapura?

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>