Tips mencairkan JHT Jamsostek

Indonesian

Rekan-rekan yang pernah bekerja di Indonesia pasti sudah kenal dengan Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), dengan salah satu pertanggungan yang disebut dengan Jaminan Hari Tua. JHT ini berfungsi seperti tabungan investasi, yang bunganya cenderung lebih besar ketimbang bunga deposito di bank. JHT bisa dicairkan jika masa keanggotaan sudah lebih dari 5 tahun dan kita tidak bekerja lagi (atau menjadi PNS/ABRI, pindah kewarganegaraan dsb).

Mudahkah proses pencairannya?

Menurut papan pengumuman di Jamsostek, prosesnya cukup mudah – meskipun demikian Anda harus bersabar mengantri dan tidak tanggung-tanggung, Anda mungkin butuh meluangkan waktu 1 – 2 hari untuk mencairkan Jamsostek. Untuk mempersingkat waktu pengurusan, berikut ini tips yang bisa Anda gunakan. Tips ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi pada saat mengurus pencairan Jamsostek di Jakarta pada awal Juni 2011.

1. Pilihlah kantor cabang Jamsostek yang sepi pengunjung.
    Kantor cabang Jamsostek yang cukup sepi pengunjung di Jakarta adalah yang berlokasi di Gedung Menara Mulia. Di gedung ini terdapat 3 cabang Jamsostek, Gatot Subroto I – III. Ketika Anda memasuki ruangan bertuliskan Jamsostek di gedung ini, Anda sedang berhadapan dengan Jamsostek Gatot Subroto I. Agak lebih kedalam, Anda bisa menemukan Jamsostek Gatot Subroto III – dan di lantai 2, Anda bisa menemukan Jamsostek Gatot Subroto II. Jadi pilih salah satu yang cukup sepi pengunjung.

2. Bawalah dokumen persyaratan secara lengkap.
    Dokumen yang dibutuhkan adalah a) Kartu Jamsostek   b) KTP    c) KK    d) Surat Referensi Keluar dari Perusahaan peserta Jamsostek; buatlah salinan (copy) dokumen-dokumen itu. Anda juga wajib mengisi formulir pencairan JHT yang dapat diperoleh di satpam.

3. Jika perlu, bawalah dokumen pengganti.
    Pada saat saya mengurus Jamsostek – KTP dan KK sudah tidak berlaku lagi, karena saya sudah lama tidak bermukim di Indonesia. Kedua dokumen diatas sedang dalam proses pembaharuan. KK kemudian saya ganti dengan Passport, dan KTP saya ganti dengan SIM / IC.

4. Tidak ada dokumen pengganti untuk Surat Referensi Perusahaan
    Sayangnya surat referensi perusahaan hukumnya WAJIB. Surat ini harus berasal dari perusahaan yang mendaftarkan kita ke Jamsostek, jika tidak – maka Anda harus mendapatkan kembali dari perusahaan tempat Anda pernah bekerja. Jadi kebayang kan, jika dahulu perusahaan itu berada di Surabaya dan kemudian kita pindah ke Jakarta – kehilangan surat referensi ini berarti menambah panjang proses pengurusan.
Untuk rekan-rekan yang baru saja mengundurkan diri, jangan lupa untuk menyimpan baik-baik kartu Jamsostek + surat referensi perusahaan.

Jadi mudahkah proses pencairannya?

Menurut saya pribadi prosesnya serasa berbelit. Surat referensi keluar dari perusahaan, mestinya tidak diperlukan lagi jika iuran Jamsostek sudah tidak dibayarkan selama lebih dari 7 tahun (kasus saya). Bayangkan betapa repotnya untuk mengurus surat itu dari perusahaan yang ada di luar kota. Bayangkan pula jika kita adalah mantan pegawai perusahaan abal-abal, yang memberikan Jamsostek – tetapi tidak memiliki catatan administrasi yang teratur.

Mestinya Kartu Jamsostek, 2 identitas diri dan catatan iuran terakhir sudah cukup untuk pencairan. Atau lebih baik lagi jika dana Jamsostek langsung masuk ke rekening tenaga-kerja secara otomatis setelah 5 tahun tidak membayar iuran. Dalam bayangan saya, ada banyak tenaga-kerja yang lupa tentang simpanannya di Jamsostek. Hal ini terutama karena syarat pencairan adalah setelah kepesertaan lebih dari 5 tahun dan sudah tidak bekerja lagi.

June 12, 2011 · cakriwut · 77 Comments
Tags:  · Posted in: Others